Gunung Semeru

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.

Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

Diperlukan waktu sekitar empat hari [ tergantung kondisi dan keinginan ] untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang-pergi. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum berwarna putih menuju Tumpang dengan ongkos 6/7 ribu perorang, disarankan kalau rombongan cuma orang sedikit lebih baik naik dari sisi selatan terminal atau tidak usah ikut ngantri, karena antrian harus menunggu angkutan penuh oleh penumpang atau kalau mau, sewa saja 50 ribu atau negosiasi dulu dengan sopir, maka kita akan langsung di antar ke Tumpang . Membutuhkan waktu sekitar 25 menitan untuk sampai di pasar Tumpang. Disambung lagi dengan Jip yang biasa parkir di depan Alfa Mart, disini banyak mas-mas para pemilik jip yang siap mengantarkan ke Ranupani, bahkan siap mencarikan surat keterangan sehat bagi para pendaki yang belum mengantonginya, tapi harus ada sedikit imbalan.

Biaya jip dari tumpang 450 rb per  pemberangkataan, jadi tinggal bagi saja berapa orang yang bisa di angkut saat itu dan maksimal jip bisa menampung 15 orang. Atau kita bisa naik truk sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang  [ biaya tidak di ketahui karena penulis belum pernah mencobanya].
23 Mei 2013 sekitar jam 8 pagi kami berempat sudah berada di kota Tumpang, tepatnya di depan sebuah Alfamart tempat para pendaki ngumpul. Di sini banyak jip-jip 4wd yang siap mengantarkan para pendaki ke basecamp desa Ranu Pani. Kami berempat adalah rombongan pendaki yang berasasl dari Bali, sebenarnya aku berangkat sendiri untuk mendaki gunung Semeru, tapi ketika di terminal Ubung aku bertemu dengan rombongan yang mau berangkat mendaki Semeru juga, akhirnya kita berempat gabung menjadi satu tim.
Bagi para pendaki yang belum sempat mempersiapkan logistik, di kota Tumpang ini bisa  belanja semua kebutuhan makanan untuk bekal pendakian nanti. Saya sendiri sempat menambah beberapa keperluan untuk mendaki di Alfamart.

Sekitar jam sembilan rombongan yang terkumpul untuk menyewa Jip ke Ranu Pani cuma 9 orang dari 15 orang yang di targetkan untuk sekali berangkat, yaitu rombonganku dari Bali 4 orang, pendaki dari Jogja 2 orang dan rombongan pendaki dari Surabaya 3 orang. Akhirnya setelah menunggu agak lama tidak ada tambahan pendaki lain,  mas  sopir jip menawari untuk berangkat dengan beban ongkos 450 rb di bagi sembilan, tapi setelah tawar menawar akhirnya kami deal dengan 40 rb per orang harusnya 50 rb per orang.

Setelah keril tertata diatas Jip, jam 09.20 kita mulai bergerak menuju base camp Ranu Pani, 9 orang didalam jip terasa berjubel, entah bagaimana jika sampai di isi 15 orang.
Perjalanan di iringi dengan senda gurau dari teman-teman yang memang suka sekali bercanda hingga seolah-olah kami adalah 1 rombongan yang berangkat  dari satu kota dan serasa kami sudah lama saling mengenal. Pemandangan  menuju Ranupani sangat indah di kanan kiri berupa ladang sayur dan jurang yang lumayan dalam, karena posisi jalan sendiri di bangun di atas punggungan perbukitan semeru. Sempat kita tehenti agak lama di desa Ngadas karena menunggu ada perbaikan jalan, untungnya pemandangan alamnya sangat bagus sehingga meskipun berhenti sekitar beberapa jam tidak terasa bosan. Bahkan kami sempat mengisi perut dengan bakso yang dijual di desa tersebut, baksonya berasap tanda masih panas tapi di mulut terasa dingin karena daerah tersebut sudah berhawa dingin khas pegunungan.
Akhirnya setelah menunggu beberapa jam, jalan sudah siap untuk di lalui lagi, dan jip bergerak lagi melanjutkan tujuan. Dan  jam 01.05 jip berhenti di lapangan Ranupani, tempat terakhir tubuh di manjakan dengan goncangan Jip 4 wd.
Setelah semua urusan dengan mas sopir selesai kami di hampiri beberapa penduduk lokal yang menawarkan jasa sebagai porter. Saya sempat berdialog sebentar dengan beberapa porter dan mencoba untuk bertanya tentang biaya porter di Gunung Semeru, ternyata biaya porter per hari 150 rb dengan tugas membawa beban maksimal 25 kg, memasak dan memasang tenda, biaya sebesar itu terhitung lebih mahal dari porter di Gunung Rinjani yang cuma 100 rb dengan tugas yang sama.

Selanjutnya kami berjalan sekitar 100 meter menuju basecamp. Langit mendung dan hujan mengguyur Ranupani siang itu.
Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni Ranu Pani (1 ha) dan Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl. terdapat juga warung dan pondok penginapan. Untuk melengkapi administrasi bagi pendaki yang membawa tenda dikenakan biaya Rp 20.000 per tenda dan apabila membawa kamera juga dikenakan biaya Rp 5.000 per buah, begitu juga dengan peralatan yang mempunyai fasilitas untuk memotret atau merekam gambar,  biaya tiket per pendaki sendiri sebesar Rp.7500. Dalam mengurus administrasi kita akan diminta mengisi kertas yang beris kolom-kolom berupa barang yang di bawa oleh setiap pendaki atau teamnya, entah apa maksudnya hingga kita disuruh memberikan data tentang berapa kaos kaki,sarung tangan,pakian ganti atau makanan yang kita bawa. Tapi memang seperti itulah peraturan yang diterapkan untuk mendaki Semeru.

Selesai sholat dan makan di warung yang terdapat di basecamp, kita langsung berangkat menuju Ranu Kumbolo, waktu menunjukkan jam 14.35 wib. Di iringi hujan rintik-rintik dan jalanan yang basah, kami bersembilan berjalan beriringan menapaki jalan menuju Ranu Kumbolo dengan di iringi canda ria dari teman-teman seperjalanan.
Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Terdapat tanda penunjuk arah jalan jika terdapat jalan bercabang atau di tempat-tempat tertentu, dan terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala. Bahkan terkadang ada tumbuhan jelatang atau “pohon jancuk” [begitu para pendaki gunung Argopuro menamakannya] yang tumbuh di sisi-sisi jalan setapak. Track ini cenderung landai dan berkelok-kelok.

Pukul 16.20 wib kami tiba di pos I , di shelter yang tersedia kami gunakan untuk istirahat sekitar 10 menit untuk kemudian melanjutkan ke pos II. Setelah berjalan sekitar 45 menit akhirnya tiba di pos II , waktu menujukkan jam 17.05 wib, pemandangan berupa hutan yang asri mengiring di sisi jalan setapak yang kami lalui, kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru kalau cuaca lagi cerah.
Hari sudah mulai gelap binatang malampun mulai bernyanyi ketika kami tiba di pos III jam 18.35, masing-masing dari kami mulai mengambil alat penerangan untuk membantu melanjutkan perjalanan.
Setelah pos III  track mulai menanjak dan licin di saat musin hujan, jadi harus sedikit ekstra hati-hati dalam mencari pijakan.

Setelah berjalan hampir 2 jam danau Ranu Kumbolo mulai kelihatan, pantulan sinar bulan yang remang-remang menambah hati ini untuk segera menggapai indah pemandangannya. Turunan menuju danau RaKum lumayan curam dan licin, hal ini menyebabkan salah seorang teman yang berjalan didepanku terpeleset jatuh, kemudian saya ikuti jejaknya ikut terjatuh pula, dan tak lama teman yang di belakang ikut terjatuh pula. Sungguh sangat mengasyikan berpetualang di alam bebas. Hal semacam ini tidak akan pernah dirasakan bagi orang yang tidak menyukai petualangan, haus, lapar, letih,ngantuk, semua kita rasakan dan akan terhapus dengan nyanyian dedaunan tertiup angin, bau dedaunan dan tanah basah yang sangat segar.

Pukul 20.25 wib. tibalah kami di RanuKumbolo. Di Ranu Kumbolo dapat didirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 mdpl dengan luas 14 ha.
Setelah menemukan tempat yang kami inginkan,kami masing-masing segera mendirikan tenda.
Setelah menunaikan  sholat aku segera memasak air dan makanan untuk mengisi perut, kemudian bergegas untuk istirahat di tenda sendirian. Udara yang sangat dingin membuat aku sulit untuk memejamkan mata, malam semakin larut hanya terdengar suara dengkuran dari tetangga sebelah yang sepertinya terbuai dengan belaian keheningan malam di Ranu Kumbolo…….

Baru saja mata mulai terpejam ketika alarm sudah membangunkanku untuk bergegas bersujud kepada  Rabbul Izzati pencipta dari keindahan alam yang tengah aku jelajahi. Bergegas aku pergi ketepi danau untuk membasuh muka dengan dingin  air Ranu Kumbolo. Selesai sholat aku langsung memasak air untuk membuat secangkir kopi. Fajar sudah tampak menyeringai menerangi alam, para penghuni tenda mulai keluar untuk segera menyongsong indahnya suasana pagi, air danau tampak jernih dengan di selimuti kabut tipis di atas permukaannya.
Setelah memasak makanan untuk sarapan, aku langsung mengemasi peralatan untuk  packing ulang. Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin jika melakukan pendakian di musim kemarau, karena sumber air berikutnya hanya terdapat di kali mati itupun setelah kita menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dan di musim kemarau sumber air bisa tidak mengalir.

Jam 08.55 wib tanggal 24 Mei 2013  kami siap berangkat menuju pos Kali Mati, setelah mengabadikan momen di Ranu Kumbolo kami beranjak menapaki tanjakan yang di sebut Tanjakan Cinta, entah siapa dan kenapa tanjakan ini dinamakan Tanjakan Cinta, yang jelas dari tanjakan ini danau Ranu Kumbolo terlihat sangat  cantik dan indah, hingga hati ini merasa jatuh cinta untuk segera mengulang ke tempat ini lagi…

Setelah melewati tanjakan cinta kita akan menemukan pemandangan yang sangat indah, di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa.  Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Dan kalo kita beruntung atau di musim basah oro-oro ombo akan di penuhi dengan ladang bunga yang berwarna ungu yang tingginya bisa lebih dari 1,5 meter.

Selanjutnya memasuki hutan cemara di mana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang. Track ini akan sedikit nanjak setelah kita membelah savana oro-oro ombo yang datar. Kemudian kita  akan memasuki pos Jambangan, disini banyak di tumbuhi bunga edelweis tapi sayang bunga belum berkembang.
Sekitar setengah jam dari Jambangan, tepatnya pukul 12.20 wib kami tibba di pos Kali Mati. Pos Kali Mati berada pada ketinggian 2.700 mdpl, disini dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 30 menit pulang pergi. Konon di Kalimati banyak terdapat tikus gunung, tapi saya sendiri tidak sempat menjumpainya.
Di kali mati dua orang teman dari Jogja memutuskan untuk mendirikan tenda di Arcopodo.sedangkan kami bertujuh sepakat untuk ngecamp  di Kali Mati.
Setelah mendirikan tenda, aku dan teman-teman bergegas  mencari air di  Sumber Mani untuk minum, masak dan berwudhu. Air di Sumber Mani sangat jernih dan sejuk mengalir di pancuran. Hawa dingin dan deru angin yang membelai daun cemara menambah suasana alam yang sangat indah di padu dengan penampilan Semeru yang tegak menjulang. Betapa besar Engkau dengan keagungan atas semua yang Engkau ciptakan ya Rabb….

Setelah sholat di dekat sumber air, kami beranjak balik ke tenda untuk istirahat siang guna mengumpulkan tenaga untuk summit attack malam harinya. Kami sepakat untuk naik ke puncak jam 11 malam. Seperti biasa mata ini sangat sulit di pejamkan padahal aku sudah mengonsumsi pil Lelap, sepertinya istri sedang memikirkanku di rumah ……dan seperti biasa hanya terdengar dengkuran mesra dari tenda tetangga …


Jam setengah sebelas salah seorang teman mendatangi tendaku untuk bertanya jam, akhirnya kuputuskan memasak air dan makanan untuk kebutuhan tenaga menggapai puncak Mahameru. Setelah semua teman-teman siap kita berkumpul untuk berdoa dan kebetulan ada tambahan lagi dua orang teman dari Malang yang mau bergabung ke puncak. Akhirnya tepat pukul 11.30 wib kami berangkat menuju pos Arcopodo untuk selanjutnya langsung ke puncak.
Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata [ sayang kacamataku hilang di Ranu Pani ] dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900mdpl,  Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.
Sekitar 1 jam perjalanan dari pos Kali Mati ke Arcopodo, aku melihat tenda teman dari Jogja sudah kosong yang menandakan si penghuninya sudah berjalan dulu menuju puncak. Track yang menanjak cukup sangat menguras tenaga. Hingga salah seorang teman merasa tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan yang memang sejak awal sudah merasa kepayahan . Akhirnya teman ini memutuskan untuk tinggal di tendanya 2 orang teman dari Jogja tersebut.

Perjalanan kami berlanjut menapaki track berpasir. sebelum memasuki track berpasir aku melihat ada beberapa memoriam di tengah jalan, ini menandakan bahwa di track ini telah banyak memakan korban pendaki, konon tempat ini di namakan Blank 75. Track pasir ini sangat menguras tenaga, kita melangkah satu langkah maka kaki akan melorot setengah langkah. Dan sesungguhnya track semacam ini yang paling aku suka meskipun harus banyak menguras tenaga tapi sungguh sangat mengasyikkan.
Akhirnya rombonganku terpisah-pisah, aku berjalan duluan hingga aku melihat kearah teman-teman yang terlihat hanya kerlap-kerlip ratusan pendaki yang berjalan beriringan menapaki jalas setapak berpasir.

Setelah berjalan dan merangkak dengan susah payah, akhirnya pukul 05.20 wib bertepatan dengan hari Sabtu tgl. 25 Mei 2013 aku berdiri di puncak tetinggi di tanah jawa, disambut gelegar wedus gembel dari kawah Jonggring Saloko. Kawah aktif Semeru mengeluarkan letupan wedus gembel setiap 15 -30 menit yang terkadang di sertai semburan lava pijar. Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat.
Subhanallah, alhamdulillah…betapa indah makhluk ciptaanMu ini ya Allah. Sholat fajr pun aku tunaikan dipuncak Mahameru. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajat Celsius, pada puncak musim kemarau suhu bisa minus 0 derajat Celsius, dan kadang dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang. Pada bulan Desember - Januari sering ada badai.

Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar.
Jam 05.20 adalah masih terlalu pagi untuk berada di puncak Mahameru, angin lumayan kencang dan udara sangat begitu dingin menusuk tulang. Setelah mengabadikan keindahan puncak Mahameru, dan kehangatan sang surya mulai mengusap tubuhku. Aku dan temanku dari Bali, serta 2 orang teman dari Jogja yang berkumpul lagi di puncak, sepakat untuk turun ketika jam menunjukkan pukul 06.10 wib. Kami segera turun karena siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloko.

Sekitar satu jam kami sampai di Arcapada,  menuruni track berpasir yang sebelumnya telah kulewati untuk summit attack. 40 menit kemudian kami tiba di pos Kalimati.
Setelah masak, kulihat teman-teman dari Bali masih tertidur pulas. Aku putuskan mengambil air di Sumber mani sendirian, selesai sholat aku langsung packing menunggu teman-teman yang lain, ada yang mengambil air, ada pula yang baru datang dari puncak,karena team sedikit tercerai berai oleh ganasnya pasir semeru.
Team jogja yang ngecamp di Arcapada sudah datang tapi team dari Bali dan Surabaya belum nongol dari Sumber mani. Akhirnya kupersilahkan team Jogja pergi duluan ke Ranu Kumbolo. Setengah jam kemudian tepat jam satu aku berangkat ke Ranu Kumbolo sendirian, karena aku lihat teman-teman dari Bali dan Surabaya begitu enjoy bercengkerama, mungkin mereka berat hati untuk meninggalkan pos Kali Mati yang begitu indah . 1 1/5 jam aku menyusul team Jogja tepat di Tanjakan Cinta. Pukul 14.40 tiba di Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo, Hari sabtu tanggal 25 Mei 2013 dipenuhi dengan ratusan orang yang mendirikan tenda, hingga terasa malas untuk bermalam di suasana yang sangat ramai sekali. Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang bersama team Jogja, tapi harus menunggu team Surabaya dan 3 orang teamku yang berjalan di belakangku.
Akhirnya setelah semua ngumpul kami berdiskusi sebentar tentang apa yang harus kita kerjakan. Ranu Kumbolo terlalu banyak penghuni serta di guyur hujan yang lumayan lebat membuat kami bersembilan sepakat memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Ranu Pani tanpa ngecamp.

Hujan masih terus mengguyur ketika kami melanjutkan perjalanan pulang ke Ranu Pani. Kami bersembilan mengambil jalur Ayak-ayak yang di sugest oleh Hanif yang pernah lewat jalur tersebut.
Jalur ini sebenarnya menaiki sebuah gunung Ayek-ayek, di awali dengan tanjakan perbukitan yang hampir-hampir tak ada track yang datar. Hujan yang mengguyur menambah ekstra beratnya medan  yang menjadi  sangat licin. Hingga terkadang kami harus merangkak, merosot dan bergantungan, sungguh medan yang cukup menantang dan menyenangkan bagi seorang petualang, dari medan yang berat ini kami merasakan tumbuhnya persahabatan yang semakin erat, kami merasakan lebih saling perduli dan memperhatikan antara satu dengan yang lainnya.

Setelah sampai di titik tertinggi dari jalur yang sedang kami lalui, kami beristirahat untuk mengatur formasi lagi. Selanjutnya jalan terus menurun hingga hingga ladang penduduk. Selanjutnya jalan menuju base camp berupa jalan semen yang biasa di lalui mobil pengangkut sayuran, cukup lumayan jauh meskipun jalan banyak datarnya. Akhirnya tepat pukul 21.00 wib sampailah kami di basecamp Ranu Pani.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota Tumpang, kami sempatkan makan rawon dan minum teh panas kas Ranu Pani di sebuah warung kecil yang masih buka. Selesai ganti pakaian dan packing kami berangkat ke Tumpang dengan mobil truck engkel yang kami carter.

Dengan terguncang-guncang di jalan yang berkelok-kelok kami semua terlelap dengan impian kami masing-masing. Sesampai di tumpang kami menyewa angkutan untuk menuju terminal Arjosari untuk selanjutnya di terminal ini kami berpisah untuk menuju daerah kami masing-masing.

Pendakian Semeru sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena konon sering terjadi badai dan tanah longsor.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celsius.
Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.



Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Darungan.
Flora yang berada di wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.

 

Ref : Pengalaman Pribadi,wikipedia,catatan waktu milik Hanif

My Team :

Team Bali : Eko Sangalam, Akin, Mirza, Eko Hariyanto

Team Jogja :Hanif, Djarwiz

Team Surabaya :Zubair, Mustofa, Faqih

   

 

Eko Sangalam | welcom to my facebook